Selasa, 04 November 2014

MAKALAH KONSEP DASAR PERBANDINGAN PENDIDIKAN

Mata Kuliah : Perbandingan Pendidikan Islam


MAKALAH
KONSEP DASAR PERBANDINGAN PENDIDIKAN




DISUSUN OLEH
KELOMPOK I :

SEMESTER : IV (EMPAT)


DOSEN PEMBIMBING
Drs. ASRUDDIN, M.Pd.I


FAKULTAS AGAMA ISLAM
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON
( UNISMU BUTON )
TA. 2014




KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Dalam pembuatan tugas ini setidaknya terdapat hal-hal yang menambah kami untuk memperoleh pengetahuan tentang “Konsep Dasar Perbandingan Pendidikan.”

Selanjutnya kami menyadari jika dalam pembuatan Makalah ini banyak berbagai pihak, yang memberi dukungan dan sambutan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah “Perbandingan Pendidikan Islam serta teman-teman yang telah ikut membantu kami secara langsung ataupun tidak langsung. Semoga pembuatan Makalah ini dapat membantu para mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah Perbandingan Pendidikan Islam.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kepada para pembaca kami mohon dapat menyampaikan saran dan kritik untuk perbaikan selanjutnya.


Pasarwajo, 14 Mei 2014
Penyusun
Kelompok I




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ketika kita mempelajari ilmu perbandingan pendidikan, banyak hal yang dapat kita analisis dan kita telaah dari ilmu perbandingan pendidikan itu sendiri. Perbandingan pendidikan, memiliki banyak unsur-unsur dan aspek-aspek yang sangat menarik untuk kita pelajari. Diantara aspek-aspek itu ialah mengenai beragam definisi yang dikemukakan para ahli, terkait ilmu perbandingan pendidikan, apa saja unsur yang dipelajari dan diperbandingkan, kemudian apa tujuan dari kita mempelajari ilmu ini, manfaatnya bagi perkembangan dunia pendidikan di suatu negara khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui usaha pendidikan, sangatlah penting dan vital bagi suatu negara.
Selain dari aspek-aspek yang telah disebutkan tadi, perbandingan pendidikan juga masih mempunyai aspek-aspek lainnya, yang sangat menggugah semangat kita, untuk mempelajarinya, terutama terkait dengan bagaimana para ahli memandang, dan melakukan pendekatan dengan ilmu ini, melalui berbagai macam sudut pandang yang mereka gunakan dalam memahami dan mendiskripsikan perbandingan pendidikan itu sendiri. Kemudian metode-metode apa saja yang dilakukan para ahli dalam melakukan penelitian dan membandingkan pendidikan dalam suatu negara, atau antar negara yang satu dan lainnya.
Serta, apa saja yang termasuk dalam wilayah ruang lingkup studi ilmu perbandingan pendidikan ini.
Pemahaman Pendidikan Islam sebagai mana yang akan dijelaskan memilki perbedaan-perbedaan yang sangat mencolok dengan bagaimana dunia barat memahami pendidikan. Jika dalam Islam Pendidikan harus meliputi tiga aspek yaitu : Jasad ,Ruh , Intelektualitas , maka dalam pandangan barat semua aspek itu tidak perlu selalu diidentikkan. Dalam pendidikan Barat juga lebih ditekankan pada rasionalitas semata . Dari segi karakteristik, terdapat perbedaan antara pendidikan Islam dan Barat. Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dalam Islam pendidikan memiliki karakteristik, yaitu
Pertama, Penguasaan Ilmu Pengetahuan. Ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan muslimat. Setiap Rasul yang diutus Allah lebih dahulu dibekali ilmu pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk mengembangkan llmu pengetahuan itu.
Kedua, Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain . Nabi Muhammad saw sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengethauan, tetapi tidak mau memberi dan mengembangkan kepada orang lain (HR. Ibn al-Jauzy).
Ketiga, penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilmu penetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak.
Keempat, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum, seperti pada hadits riwayat Abu al-Hasan Bin Khazem bin Anas
Kelima, penyesuaian terhadap perkembangan anak. Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai umur, kemampuan, perkembangan jiwa, dan bakat anak. Setiap usaha dan proses pendidikan haruslah memperhatikan faktor pertumbuhan anak.
Keenam, pengembangan kepribadian. Bakat alami dan keampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan berkembang sehingga bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Setiap murid dipandang sebagai amanah Tuhan, dan seluruh kemampuan fisik & mental adalah anugerah Tuhan. Perkembangan kepribadian itu berkaitan dengan seluruh nilai sistem Islam, sehingga setiap anak dapat diarahan untuk mencapai tujuan Islam.
Ketujuh, penekaanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Setiap anak didik diberi semangat dan dorongan untuk mengamalkan ilmu pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Amal shaleh dan tanggung jawab itulah yang menghantarkannya kelak kepada kebahagiaan di hari kemudian kelak (HR. Muslim).
Dengan karakteristik-karakteristik pendidikan tersebut tampak jelas keunggulan pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan lainnya. Karena, pendidikan dalam Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupannya.
Nah, dari beberapa point-point penting itulah, yang akan kita pelajari bersama, dalam makalah ini. Kami dari kelompok pertama, akan memaparkan dan menguraikan point- point penting diatas, yaitu pengertian, tinjauan historis, ruang lingkup, metode, serta perbedaan perbandingan pendidikan Islam dan Barat. Kami berharap, dengan adanya makalah ini, para pembaca khususnya para mahasiswa, dosen, dan para pelaku yang memiliki minat dalam ilmu perbandingan pendidikan, dapat menambah, memperbarui, dan memahami pengetahuan tentang perbandingan pendidikan, serta dapat mengobati rasa keingintahuan mereka akan ilmu ini.

B.     Batasan Masalah

Dari paparan latar belakang di atas penulis membatasi beberapa masalah untuk dijadikan pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu:
1.      Pengertian Perbandingan Pendidikan.
2.      Tinjauan Historis dan Dinamika Ilmu Perbandingan Pendidikan.
3.      Ruang lingkup studi ilmu perbandingan pendidikan.
4.      Ciri-ciri pendidikan perbandingan.
5.      Metode-metode dalam Studi Perbandingan Pendidikan.
6.      Persyaratan pelaku studi perbandingan pendidikan.
7.      Objek atau sasaran studi perbandingan pendidikan.
8.      Pentingnya ilmu perbandingan pendidikan.
9.      Perbedaan Konsep Dasar Pendidikan Islam dan Barat

C.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas penulis mengambil beberapa poin-poin masalah tentang konsep dasar perbandingan pendidikan yaitu:
1.      Apa Pengertian Perbandingan Pendidikan ?
2.      Bagaimana Tinjauan Historis dan Dinamika Ilmu Perbandingan Pendidikan ?
3.      Bagaimana Ruang lingkup studi ilmu perbandingan pendidikan ?
4.      Apa saja Ciri-ciri pendidikan perbandingan ?
5.      Apa saja Metode-metode dalam Studi Perbandingan Pendidikan ?
6.      Apa Saja Persyaratan pelaku studi perbandingan pendidikan ?
7.      Siapa Objek atau sasaran studi perbandingan pendidikan ?
8.      Apa Pentingnya ilmu perbandingan pendidikan ?
9.      Bagaimana Perbedaan Konsep Dasar Pendidikan Islam dan Barat ?

D.    Tujuan Penulis

Adapun tujuan dan kegunaan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Perbandingan Pendidikan Islam, agar pembaca dapat mengetahui dan memahami konsep “Sketsa Pendidikan Dibeberapa Negara Islam” antara lain; Negara Mesir, Negara Saudi Arabia, Negara Iran, dan di Negara Irak.

E.     Manfaat Penulis

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yakni, untuk menghasilkan sebuah pemikiran dan pemahaman yang matang, serta menghasilkan pula sumber daya manusia yang berkualitas, melalui usaha penelitian dan perbandingan pendidikan, demi tercapainya kemajuan suatu negara, dalam segala bidang, yang awalnya dimulai dalam bidang pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP DASAR PERBANDINGAN PENDIDIKAN

A.    Pengertian Perbandingan Pendidikan

Sebagai suatu ilmu perbandingan pendidikan tidaklah hanya membahas masalah-masalah sistem pendidikan dan pengajaran yang ada pada suatu negara, dan tidak hanya membahas tentang pemikiran kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat dalam suatu negara atau tentang teori-teori kependidikan yang diamalkan oleh suatu masyarakat sebagai suatu landasan pembahasan tentang sistem pendidikannya. Bukan ilmu perbandingan pendidikan bila hanya menitikberatkan pembahasan pada perbandingan antara teori-teeori pendidikan yang ada dalam suatu masyarakat.
Ilmu perbandingan pendidikan juga tidak hanya sekedar membandingkan antara dua sistem atau lebih dari pada pelaksanaan pendidikan dan pengajaran yang ada disuatu negara atau disuatu masyarakat. Karena dengan cara  demikian kita hanya mengetahui beberapa persamaan dan perbedaan tanpa mengetahui latar belakang yang menyebabkan timbulnya persamaan dan perbedaan tersebut.
Ilmu perbandingan pendidikan itu mengandung pengertian yang lebih kompleks. Oleh karena itu harus mencakup berbagai latar belakang yang mempengaruhi perkembangan bangsa disuatu negara. Sedangkan dalam perkembangan suatu bangsa itu terdapat aspirasi-aspirasi dan ide-ide yang mendorong perkembangannya dalam kurun waktu lama. Aspirasi dan cita-cita itulah yang memberi corak dan bentuk kebudayaan dan peradaban bangsa itu.

Oleh karnanya pembatasan pengertian Ilmu perbandingan pendidikan harus bersifat komprehensif sebagai berikut:
1.      Ilmu perbandingan pendidikan adalah studi tentang sistem pendidikan dan pengajaran beserta problematika problematika dalam negara-negaranya yang berbeda. Masing-masing sistem dan problematika tersebut diusut sampai kepada sebab-sebab sebenarnya yang berada dibalik sistem dan problematikanya.
2.      Ilmu perbandingan pendidikan juga diartikan sebagai studi tentang sistem pendidikan dan pengajaran dinegara yang berbeda serta factor-faktor yang mempengaruhinya.
3.      Ilmu perbandingan pendidikan juga dapat diartikan sebagai studi tentang teori-teori kependidikan dan pengajaran serta bagamana pengalaman atau pengetrapannya dinegara-negara yang berbeda itu dengan memperbandingkan antara teori-teori tersebut sehingga diketahui persamaan dan perbedaannya serta mengebalikan kepada latar belaknag sumber yang mempengaruhinya.

Jadi yang menjadi inti pokok dalam ilmu  perbandingan pendidikan itu adalah pembelajaran tentang sebab yang menimbulkan problematika dan pengajaran serta sebab-sebab yang dapat menimbulkan persamaan dan perbedaan diantara sisitem -sistem dinegara-negara yang berbeda.

Untuk lebih mendekati arti pendidikan perbandingan  berikut ini ditampilkan  beberapa definisi yaitu yang berasal dari I.L.Kandel dan Carter  V.Goad, sebagai berikut :
a)      Kandel memberikan  pengertian sebagai berikut:
“Pendidikan perbandingan adalah studi tentang teori dan praktek pendidikan masa sekarang sebagai mana dipengaruhi oleh berbagai macam latar belakang yang merupakan kelanjutan sejarah pendidikan”.

Disini Kandel  menunjukkan bahwa  yang dipelajari adalah teori dan praktek pendidikan sekarang dengan mengingat bahwa bermacam-macam latar belakang termasuk sejarahnya turut menentukan pula pendidikan pada waktu sekarang.  Mengenai sejarah pendidikan, disinggung dalam hubungan  ini karena sifatnya yang sistematis dan mengandung teori  dan prektek pendidikan dari zaman ke zaman.

b)     Carter V.Goog memberikan pengertian sebagai berikut:
“Perbandingan pendidikan adalah studi yang bertugas mengadakan perbandingan teori dan praktek kependidikan yang ada didalam beberapa negara dengan maksud untuk memperluas pandangan dan pengetahuan diluar batas negrinya sendiri”.

Definisi diatas menunjukkan aspek operasional dari pendidikan  perbandingan. Jadi,  mengandung jiwa kepraktisan. Di samping itu kedua definisi itu saling  mengisi. Dalam definisi yang dikemukakan oleh Good memang tidak tercantum tentang perlunya  memperhatikan berbagai latarbelakang pendidikan seperti yang terkandung dalam definisi dari kandel, namun hal ini  dapat dianggap baik oleh Good. Ini desebabkan  oleh kenyataan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari dimensi-dimensi waktu yang melingkupinya yang lampau, kini, dan yang akan dating. Berarti, bila orang  mempelajari pendidikan  beberapa Negara secara perbandingan perlu mengikut sertakan dimensi waktu.
Argumentasi-argumentasi yang sama dapat pula dikenakan kepada latar belakang- latarbelakang yang lain seperti filsafat, ideologi, dan sebagainya.  Tiada pendidikan yang tidak beranjak atau dipengaruhi oleh latarbelakang-latarbelakang tersebut.
Tentang kemungkinan adanya definisi-definisi yang lain tentulah tidak tertutup. Akan tetapi sampai sekarang ini dapat dicatat, definisi dari dua tokoh ini, yang keduanya guru besar dalam bidangnya, telah dapat digunakan dalam memahami makna tentang pendidikan perbandingan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perbandingan pendidikan ialah menganalisa dua hal atau lebih untuk mencari kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaannya. Dengan demikian maka studi perbandingan pendidikan ini adalah mengandung pengertian sebagai usaha menganalisa dan mempelajari secara mendalam dua hal atau aspek dari sistem pendidikan, untuk mencari dan menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan yang ada dari kedua hal tersebut.

B.     Sejarah dan Dinamika Ilmu Perbandingan Pendidikan

Sejak zaman plato 457-467 sm penyelenggaraan pendidikan oleh negara telah dibahas secara filsofis buku Republika menggambarkan bagaimana pembinaan sebuah negara, masyarkat dan pendidikan mesti di lakukan. Menurut plato sebagaimana yang terurat dalam buku Republika, bahwa negara ideal berdasarkan pada keadilan.
Keadilan dalam negara hanya tercapai apabila tiap-tiap warganya mengerjakan pekerjaan yang teruntuk kepadanya.
Plato berpendapat bahwa pada tiap-tiap negara semua golongan manusia merupakan alat bagi pencapaian kesejahteraan secara kolektif (kelompok).
Konsep negara syarat dengan ajaran moralitas bangsa yakni negara yang adil dan berbudi titik tekan yang sama masalah etika negara ini dibicarakan pula oleh muridnya plato. yaitu Aris Toteles.

Aris toteles juga bicara tentang etik tetapi menurutnya baru sempurna terlaksana dalam sebuah negara. Pada dasarnya manusia mempunyai bakat moral tetapi itu hanya dapat dikembangkan dalam hubungan dengan manusia lain.

Menurut Aris Toteles bentuk negara ada tiga macam :
1.      Monarki : sistem kerajaan ( dipimpin oleh satu orang)
2.      Aristokrasi : negara ini dipimpin oleh sekelompok orang
3.      Demokrasi : gabungan antara monarki dan aristokrasi.

Studi Perbandingan muncul pada saat penting dalam sejarah dunia. Eropa telah menemukan sisa dari dunia dan mencoba untuk menjelaskan variasi banyaknya. penjelasan Rasional sedang dicari sifat sebenarnya dari lembaga-lembaga manusia.Sebuah keyakinan yang diperlukan dalam hukum alam membuat penilaian tentang bagaimana pemerintah, keluarga, dan masyarakat sipil yang terorganisir. Perkembangan ini memberikan kontribusi pada peningkatan studi komparatif. Ilmu itu sangat penting dalam perkembangan studi banding, dan sarjana komparatif awal seragam diidentifikasi sebagai salah satu bidang yang didasarkan pada penggunaan "metode ilmiah" Dalam pengertian ilmiah yang lebih umum, sarjana perbandingan diuji hipotesis tentang hubungan sebab akibat antara gejala.Namun, dari para ulama juga perbandingan awal Pembatasan penelitian ilmiah mereka dalam dua cara.Pertama, mereka memeriksa persamaan dan perbedaan antara fenomena atau kelas dari fenomena. Kedua, sedangkan ilmu pengetahuan umumnya berkomitmen untuk eksperimentasi sebagai suatu cara untuk membuat klasifikasi dan teori pengujian, sarjana perbandingan hampir seluruhnya bergantung pada variasi belajar secara alami dan wajar.
Perbandingan pendidikan (Comparative Education ) sebagai salah satu bagian dalam bidang pendidikan memulai peran nyatanya pada tahun 1960-an walaupun pada hakikatnya kegiatan pembandingan pendidikan itu telah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu dan telah ikut pula melahirkan berbagai institusi pendidikan secara formal.Dalam usianya yang relatif muda, ”perbandingan pendidikan” telah menunjukkan sumbangannya terhadap perbaikan dan peningkatan pendidikan di berbagai negara.Namun demikian,tidak mengherankan apabila intensitas perhatian dan kegiatan formal perbandingan pendidikan ini sangat berbeda antara negara-negara bahkan juga tidak sama secara regional.
Dalam perkembangan bidang ilmu perbandingan pendidikan ,cukup banyak nama yang bisa disebut,baik dalam kategori pelopor,sebagai ahli dalam bidang perbandingan pendidikan atau keduanya.Beberapa nama patut disebutkan sebagai gambaran bahwa bidang ilmu ini pun juga sudah mengglobal. Di Amerika Utara dan Eropa , misalnya, I.L Kandel, Robert Ulich, Nocholas Hans, Friederich Schneider, Franz Hilker, Erich Hylla, Lauwerys, George Z.Bereday, Williams W.Brickman, Harold Noah, C.Arnold Anderson, dan Claude A.Anderson merupakan nama-nama yang hasil karyanya dalam bidang perbandingan pendidikan sering dirujuk.

C.    Ruang lingkup studi ilmu perbandingan pendidikan

Mengingat studi perbandinangan pendidikan mempunyai sasaran yang tidak hanya terbatas pada permasalahan kependidikan di suatu atau dibeberapa negara dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, maka untuk lebih memantapkan studi tersebut , para ahli telah memberikan pendapat-pendapatnya tentang ruang lingkupnya, sebagai berikut:
1.      J.P. Sarumpaet MA. Lektor pada Universitas Melbourne, meninjau beberapa begian terpenting dari sistem pendidikan masing-masinng negara. Pertama-tama ditinjau sejarah pendidikannya secara singkat untuk mengetahui sistem apa yang berlaku saat ini. Kemudian ditinjau administrasi pendidikannya, terutama dilihat dari segi praktek adminisrtasi dan organisasinya.
2.      William W. Brickman berpendapat bahwa perbandingan pendidikan itu mempelajari dan menganalisa serta memperbandingkan hal-hal sebagai berikut:
a.      Mempelajari sistem pendidikan dinegara lain dan penjelasan mengenaipermasalahan pendidikan.
b.      Menganalisa mengenai latar belakang yang mempengaruhinya serta problema-problemanya dan berbagai pandangan tentang poblema yang kontroversal.
c.       Memperbandingkan dan menilai sebab-sebab pokok sebelumnya dan sesudah dilakukan pemeahan problema-problema yang kontroversal dan yang bersifat biasa.
3.      Menurut pendapat DR. Nazily Shalih dan DR. Abdul Ghani Abud, studi perbandingan pendidikan itu mempunyai ruang lingkup yuang luas, karena mencakup hal-hal sebagai berikut:
a.      Segala pengetahuan yang berkaitan dengan sistem pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat yang berbeda.
b.      Berbagai teori atau pengetahuan pendidikan seperti filsafat pendidikan, kurikulum pendidikan , managemen dan badget kependidikan , metodologi pendidikan, masalah penyediaan guru dan pembinaanya serta peraturan-peraturan yang berlaku.
c.       Sejarah pendidikan dari suatu negara, karena sejarah dapat menjelaskan problematika kependidikan untuk masa kini.
d.     Kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa yang merupakan latar belakang yang mempengaruhi timbulnya sistem kependidikan yang berbeda antara satu dari yang lainnya. Dengan mempelajari factor-faktor kebudayaan dari masing-masinng masyarakat atau bangsa, maka para pelaku studi akan menemukan permasalahan mendasar yang menjadi latar belakang sistem kependidikan yang ada.

Berdasarkan uraiandiatas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup perbandingan pendidikan ialah meliputi sistem pendidikan, latarbelakang yang mempengaruhinya, teori atau pengetahuan pendidikan, sejarah dan kebudayaannya.

D.    Ciri-ciri pendidikan perbandingan

Pendidikan perbandingan mempunyai ciri-ciri  yang ilmiah, kultural, humanistis, komperhensif dan interdisipliner. Dikatakan ilmiah karena mempunyai kelengkapan sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, ialah mempunyai objek yang menjadi sasaran penelitian, sudut pandangan atau skopa dan metode-metode penelitian.  Bersifat Kultural, karena termasuk dalam lingkungan  ilmu pendidikan  dan cabang disiplin ini termasuk dalam golongan ilmu-ilmu  kebudayaan.  Dikatakan humanistis karena fokus utama  dari padanya berasal dari interaksi manusia dengan lingkungan serta pengalaman-pegalamannya. Selanjutnya,disebut komperhensif atau luas karena sifatnya yang interdisipliner. Berarti  luasnya harus mencakup fakta penting ilmu-ilmu modern, yaitu yang dapat membantu  memberikan sumber-sumber penerangannya untuk keperluan studinya.
Mengenai sifat atau ciri perbandingan pendidikan Gail F. Kelly dan kawan-kawan dalam bukunya Comperative Education, menunjukkan ciri-ciri perbandingan pendidikan yang lebih kurang sebagai berikut:

1.      Tentang isi (”content”):
a)      Perbandingan sistem-sistem pendidikan nasional dengan maksud memberi sumbangan timbulnya saling pengertian internasional, perbaikan atau pembaharuan pendidikan (sampai dengan tahun 1960). Menurut perkiraan pendidikan perbandingan mulai berkembang secara sistematis menjadi disiplin ilmu sejak permulaan tahun 1930-an.
b)     Analisis tentang hubungan sekolah dan masyarakat (sampai dengan tahun 1960). Dalam hubungan ini, Nicholas Hans misalnya, meneliti tentang peran yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam pengembangan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Kalau dalam konkritnya dua rangkuman contoh isi (a dan b) di atas selalu bersifat komparatif, artinya membandingkan pendidikan negara yang satu dengan negara yang lain, C. Arnold Anderson mengetengahkan studi yang mendalam. Menurut tokoh ini, studi mendalam mengenai suatu fenomena pendidikan suatu negara dapat digunakan sebagai materi studi komparatif. Dengan menggunakan parameter tertententu suatu studi untuk negara tertentu dapatlah diuji adanya pada negara yang lain.
c)      Studi tentang modernisasi. Sebagian materi studi sejak masa akhir tahun enam puluhan berkisar pada masalah modernisasi. Dengan menggunakan kerangka pikir teori modernisasi para ahli berusaha memperoleh pengertian tentang apakah suatu negara telah mencapai atau sedang bergerak ke arah modernisasi. Dalam hubungan ini peranan pendidikan juga ditelaah dalam kaitan dengan perkembangan masyarakat dan perekonomian negara-negara yang bersangkutan.

2.      Tentang metode :
Uraian pada awal bab ini menyebutkan bahwa peminat pendidikan perbandingan itu bermacam-macam, yaitu dari ahli dalam bidangnya, pendidik, sampai pejabat-pejabat dalam perencanaan dan kerja sama regional dan internasional dalam bidang pendidikan. Atas dasar pernyataan ini, maka pendidikan perbandingan bervariasi  bidang isi telah memperoleh tempat pada bagian yang terdahulu, maka, pada bagian ini akan diuraikan secara singkat ciri-ciri tentang metode.
Variasi tentang metode ini telah disinggung secara singkat pada bab pendahuluan ketika dibicarakan tentang pandangan-pandangan Kandel dan Hans mengenai pengembangan  pendidikan perbandingan. pada bagian ini disebutkan bahwa dengan mengikuti pandangan Kandel tentang pendidikan perbandingan, maka, metode-metode yang perlu dikembangkan adalah historis, komparatif, dan filosofis. Bila diikuti pandangan Hans, metode yang terutama sekali diperlukan adalah deskriptif dan eksperimental.
Ada tokoh-tokoh yang memikirkan dan mengusahakan adanya metode tertentu yang dapat menjadi ciri khas pendidikan perbandingan. Tokoh-tokoh itu, diantaranya, Andreas Khasamias, Harold Noah dan Max Eckstein. Dua tokoh terakhir ioni secara khusus mengungkapkan pandangannya dalam buku yang berjudul Toward a Saince in Comparative Education, dengan mengatakan bahwa studi komparatif tidaklah seyogyanya bersifat impresionistik, melainkan perlu berpegangan secara ketat paradigma ilmu dari ilmu-ilmu sosial. data empirik perlu diutamakan, dan ditinggalkan pengungkapan data yang berdasarkan kesan-kesan. Perkembangan pendidikan perbandingan memang ada kecendrungan mempunyai ciri semacam ini.
Fokus utam pendidikan perbandingan, menurut tokoh-tokoh ini adalah hubungan antara sekolah dan masyarakat, yang untuk ini perlu dikembangkan pengetahuan baik secara teoritik maupun praktis, serta metode yang diperlukan. Dengan konstruksi pikir ini dapat dikembangkan hukum-hukum dan bila ini telah diketemukan, maka peranan pendidikan terhadap perkembangan masyarakat dan kebudayaan, misalnya, menjadi jelas pula.
Konsepsi yang dirumuskan oleh Noah dan Eckstein ini barasal dari gurunya, yaitu George Bereday, yang telah menuliskan konsepsinya dalam Comparative Method in Education. Hal yang berbeda dengan pandangan Bereday adalah metodenya. Kalau Bereday berpendapat bahwa studi perbandingan itu dapat menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif, Noah dan Eckstein meyogyakan penggunaan metode kuantitatif sebagai metode utama. Dengan kuantitatif kaidah-kaidah ilmiah seperti objektivitas dan replikatif dapat terpenuhi.
Pandangan yang senada dikemukakan oleh Brian Holmes, yang dituliskan dalam bukunya yang diberi judul Problems in Education : A Camparative Approach. Ia mengemukakan bahwa agar sifat ilmiah pendidikan perbandingan sungguh-sungguh dapat dicapai, dalam metodenya perlu dipenuhi syarat-syarat seperti : objektivitas, pengembangan kategori-kategori perbandingan yang konsisten dan mantap, metode yang cermat dalam pengumpulan data, analisa yang runtun, dan sebagainya.

Menurut Holmes, hasil studi pendidikan perbandingan memberikan data-data yang dapat digunakan sebagai pemecahan masalah pendidikan tertentu. Ini dapat meliputi ruang lingkup baik yang sempit maupun yang luas. Yang sempit seperti halnya tentang kegiatan-kegiatan kelas dan sekolah, sedangkan yang luas dapat meliputi hubungan sekolah dan masyarakat ataupun transfer teori dan praktek pendidikan dari suatu negara ke negara yang lain.

3.      Tentang pendekatan
Pendekatan yang digunakan oleh para ahli dalam studi komparatif dapat digolongkan menjadi dua, yaitu makro dan mikro. Analisis makro juga disebut analisis tentang sistem pendidikan dunia.
Pendahuluan dan analisis mikro dapat mengambil ruang lingkup secara regional atau lokal. Dapat secara khusus menganai berbagai pelaksanaan pendidikan atau hubungan antara sekolah dan masyarakat baik yang berlangsung dalam suatu negara maupun lintas negara.
Analisis mikro ini merupakan studi yang tidak jarang bersifat mendalam. Sementara ahli melihat bahwa hasil pandidikan suatu jenis sekolah tidak dapat semata-mata dipelajari hanya dari analisis tentang kebijaksanaan pendidikan seperti penentuan kurikulum, pendidikan guru dan ujian-ujian. Berbagai latarbelakang perlu ditelaah, misalnya sistem nilai masyarakat yang bersangkutan dan adanya kelompok-kelompok serta stratifikasi sosial.
Latarbelakang sosial ini ikut mengambil bagian dalam pencapaian kemampuan dan taraf berpikir siswa-siswa di sekolah. Demikian pula keadaan ekonomi. Sering kali siswa-siswa tertentu tidak dapat maju di sekolah karena mereka berada pada lapisan bawah masyarakat.
Untuk menyelenggarakan studi semacam ini pendekatan mikro menggunakan landasan ilmu-ilmu seperti antropologi dan sosiologi dengan pengamatan yang khas seperti fenomenologi dan interpretasi.
Uraian singkat di atas pada hakekatnya menunjukkan sifat lintas disiplin (interdiscipliner) dari pendidikan perbandingan.

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ciri-ciri perbandingan pendidikan yaitu bersifat  ilmiah, kultural, humanistis, komperhensif dan interdisipliner. Sedangkan menurut Gail F. Kelly dan kawan-kawan ciri-ciri perbandingan pendidikan itu meliputi isi, metode dan perbandingan. Mengenai isi dalam perbandingan pendidikan yaitu harus memperhatikan sistem-sistem pendidikan, analisis tentang hubungan sekolah dengan masyarakat, dan pendidikan tentang modernisasi, yaitu peranan pendidikan dengan perkembangan ekonomi dan masyarakatnya.
Selanjutnya mengenai metode dalam pendidikan perbandingan, ciri-ciri metode yang digunakan ialah bersifat historis, komperatif, filosofis, deskriptif, dan eksperimental.

Sedangkan mengenai pendekatan digolongkan menjadi dua, yaitu makro dan mikro. Analisis makro juga disebut analisis tentang sistem pendidikan dunia dan analisis mikro dapat mengambil ruang lingkup secara regional atau lokal. Menganai berbagai pelaksanaan pendidikan atau hubungan antara sekolah dan masyarakat baik yang berlangsung dalam suatu negara maupun lintas negara.

E.     Metode-metode dalam Studi Perbandingan Pendidikan

Metode-metode yang digunakan dalam studi perbandingan pendidikan adalah sebagai berikut :

a.      Metode Historis
Fungsi dan tujuan dari metode ini adalah untuk menemukan fakta tentang situasi pendidikan pada waktu lampau, kemudian memahami dan membandingan pendidikan pada masa kini, dan untuk memahami perkembangan pendidikan pada masa yang akan datang.
Dengan metode ini, dapat ditemukan perubahan, persamaan, dan perbedaan sistem pendidikan dalam waktu tertentu, antar negara yang satu dengan negara yang lain, dan kemudian tren perubahannya, di masa yang akan datang.
Langkah-langkah yang ditempuh jika menggunakan metode ini yaitu : 1. Memilih Problem, 2. Mengumpulkan Data, 3. Menguji Data,  4. Membuat Hipotesis  tentang kondisi pendidikan masa lalu 5. Menarik Kesimpulan.

b.      Metode Deskriptif
Deskriptif artinya menguraikan, menjelaskan, dan menyampaikan kondisi obyektif  tentang teori dan praktik pendidikan, baik berupa sistem, kebijakan, proses, kurikulum, aliran, dan sebagainya, yang terjadi pada waktu sekarang di suatu negara. Langkah-langkahnya yaitu mengumpulkan data dan fakta, kemudian membuat prediksi dan identifikasi dari hubungan antar  variabel dalam penelitian.

c.       Metode Statistik
Metode statistik yaitu, cara penelitian  dengan menggunakan data statistik yang berguna untuk mengungkap, dan menganalisis hubungan antar  variabel penelitian tentang pendidikan  di berbagai negara.

d.      Metode Filosofis
Metode filosofis, yaitu metode yang mencoba mencermati prinsip dan konsep pendidikan, yang dianut oleh suatu negara, termasuk penggunaan tema peserta didik, pendidikan kaum dewasa (adult education), penanaman nilai (transfer of value) dan sebagainya, yang masing-masing negara mempunyai maksud tersendiri atas tema-tema tersebut.

e.       Metode Komparatif
Metode komparatif, artinya membandingkan, yaitu membandingkan antara kekuatan dan faktor-faktor kebudayaan yang mempengaruhi sebuah sistem pendidikan di suatu negara, kemudian akan dibandingkan lagi  dengan negara-negara yang lain. Pada metode komparatif, terdapat tiga prinsip dalam memilih unit yang akan diperbandingkan, yaitu prinsip Comparable, Setaraf, dan Relevan.
Comparable, artinya layak untuk dibandingkan, misalnya, membandingkan antara sistem dan kebijakan pendidikan, pada masa orde lama dan masa orde baru, di Indonesia. Setaraf, artinya jika dibandingkan dari sisi unsur, ruang, waktu, dan wilayahnya tidak jauh berbeda. Misalnya, membandingkan pendidikan antara negara-negara yang berada di wilayah Asia Tenggara atau ASEAN.
Relevan, artinya masih berlaku, atau dapat dipertanggungjawabkan, dan menunjukan konsistensi dan kesesuaian antara unsur-unsur yang dibandingkan. Misalnya, membandingkan pendidikan antara negara Uni Soviet dan Amerika Serikat, hal tersebut sudah tidak relevan lagi, karena negara Uni Soviet sudah tidak ada lagi, dan pecah menjadi negara-negara seperti Rusia, Ukraina, dan sebagainya. Sehingga dalam metode komparatif, perlu diperhatikan pula prinsip relevan atau tidaknya unsur-unsur pendidikan yang akan diperbandingkan.

f.        Metode Quasi-Eksperimental
Metode ini, menggunakan prinsip percobaan atau eksperimen dalam membandingkan pendidikan antar negara. Misalkan membandingkan pendidikan di negara-negara Afrika, yang banyak memiliki berbagai macam suku dan etnis yang beragam. Dalam hal ini, tokoh metode quasi-eksperimental, yang bernama Foster, menyarankan untuk menggunakan metode ini, yaitu dengan cara memilih satu kelompok suku yang sama, dan berada di antara dua negara yang berbeda, kemudian juga sebaliknya, memilih dua suku atau lebih, yang berada di satu negara yang sama. Dari hasil perbandingan dengan metode ini, akan mempengaruhi kebijakan pendidikan, yang akan di ambil pemerintah dalam suatu negara, terutama yang berkaitan dengan latar belakang suku atau etnis yang berbeda-beda.

F.      Persyaratan pelaku studi perbandingan pendidikan

Permaslahan dalam kependidikan  yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di Negara-negara berbeda, merupakan sasaran studi yang  utama. Untuk mengenal dan mengetahui permaslahan tersebut, para pelaku setudi dalam perbandingan pendidikan perlu menguasai  pengetahuan yang berhubungan  dengan hal-hal sebagai berikut :

a)      Mengetahui tentang sistem kependidikan dan pengajaran dari Negara yang dipelajari. Problem-problem dalam sisitem itu juga harus diketahui. Pengetahuan tersebut harus dapat dimanfaatkan secara tepat sehingga ia mampu mengaitkan antara  sebab dan akibat atau antara komponen-komponen sistem itu dengan faktor-faktor yang melatar belaknginya.

b)     Mengetahui tentang pemikiran (konsep) dan teori kependidikan yang diamalkan serta diterapkan dalam masyarakat dinegara yang dipelajari. Akan tetapi ia tidak perlu terlalu menitik beratkan pada masalah konsep dan teori tersebut, melainkan hanya dipergunakan sebagai pembantu dalam penganalisisannya  saja.

c)      Mengetahui tentang sejarah  pendidikan dari Negara yang studi, namuntidak perlu terpaku pada soal ini, melainkan menjadikan sejarah pendidikan itu sekedar untuk mendapatkan penjelasan  mengenai problema problema kependidikan. Problema-problema  tersebut dijadikan bahan perbandingan.

d)     Memiliki pengetahuan  yang cukup banyak  dan menyeluruh  tentang segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan masyarakat yang di studi. Soal-soal politik, ekonomi, sosial, agama, adat istiadat, kebudayaan dan lain-lainnya yang dapat menjelaskan sistem kependidikan dan pengajaran yang ada.

e)      Mempunyai kemampuan menghubungkan antara sebab dan akibat serta faktor-faktor kebudayaan yang ada dibalik problem-problem yang Nampak dalam sistem kependidikan dan pengajaran yang ada.

Semua pengetahuan yang tersebut diatas bukan menjadi tujuan pokok studi perbandingan pendidikan, melainkan hanya sekedar penunjuang yang dapat mempelancar studi yang mendalam dan komperhensif (mencakup) sebagai suatu ilmu.

G.    Objek atau sasaran studi perbandingan pendidikan

Dalam studi ilmiah, dikenal adanya dua macam objek, yaitu objek formal dan objek material. Sasaran objek formal adalah sistem, teori dan praktek pendidikan yang ada sekarang, yang berlangsung pada berbagai masyarakat/bangsa, dengan menggunakan pendekatan perbandingan.
Sedangkan Objekmaterial studi perbandingan pendidikan, adalah masalah atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan yang mencakup permasalahan yang sangat luas, masalah hidup dan tingkah laku kehidupan manusia.  Masalah-masalah yang berkaitan dengan bagaimana orang tua/geneasi tua mempersiapkan anak /generasi mudanya, agar nantinya mampu melaksanakan tugas-tugas hidup dan mengembangkan kehidupannya di masa yang akan datang atau dengan singkat proses pendewasaan anak.

Diantara objek tersebut ialah:
a.      Perbuatan mendidik itu sendiri
b.      Anak didik
c.       Dasar dan tujuan pendidikan
d.     Pendidik
e.      Materi pendidikan
f.        Metode pendidikan
g.      Alat-alat pendidikan
h.      Lingkungan sekitar

H.    Pentingnya ilmu perbandingan pendidikan

Perbandingan pendidikan sebagai ilmu dalam dunia pendidikan pada khususnya dan dunia ilmu pengetahuan pada umumnya mempunya kedudukan penting. Tidak saja orang-orang yang bekerja dalam dunia pendidikan yang dapat memetik manfaat ilmu perbandingan pendidikan, akan tetapi juga mereka yang mempunyai minat dan profesi dalam bidang-bidang ilmu sosial seperti para ahli sosiologi, ahli kebudayaan dan ahli politik dan sebagainya.
Khusus bagi orang yang berkecimpung dalam dunia kependidikan, studi perbandingan pendidikan dapat memberikan berbagai bentuk dan segi kemanfaatan. Di antaranya adalah:
a)      Akademis ilmiah, karena studi perbandingan pendidikan telah memiliki  kelengkapan studi sebagaiman ilmu pengetahuan lainnya  yaitu mempunyai sasaran (objek) studi yang jelas, mempunyai scope (ruang lingkup) pandangan yang khusus tersendiri dan metode-metode studi tertentu. Disamping itu perbandingan pendidikan juga memberikan manfaat dalam mempelajari berbagai teori kependidikan, memperdalam pemahaman selukbeluk pendidikan dan asla usulnya, tentang hubungan pendidikan dengan masyarakat serta tentang sebab dan akibat dari hubungan antar keduanya.
b)     Cultural (kebudayaan), karena manusia hidup dalam bermasyarakat pada hakekatnya adalah  objek dan subjek  pembudayaan masyarakat sendiri. Alat yang dijadikan  pembudayaan (enculturation) itu adalah pendidikan. Dengan demikian masyarakat  tanpa pendidikan tidak mungkin  dapat hidup berbudaya tinggi. Oleh karena itu pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan umat manusia dan ia menjadi cabang  dari disiplin ilmu kebudayaan. Studi perbandingan  pendidikan memandang pendidikan  memiliki potensi cultural juga mempunyai daya membentuk  dan mengubah corak dan isi kebudayaan  masyarakat kearah tujuan tertentu sesuai  trends (arah) perkembangan hidup yang diciptakan. Oleh karena itu melalui studi perbandingan  pendidikan seseorang akan dapat lebih banyak mengenal dan meresapi corak, bentuk dan cita-cita  cultural masyarakat yang di studi.
c)      Humanistis, karena perbandingan pendidikan lebih menitik beratkan  tugasnya pada masalah interelasi (saling hubungan) anatara faktor-faktor lingkungan hidup dan pengalaman-pengalaman manusia sebagai anggota masyarakat, serta saling pengaruh mempengaruhi antara manusia dengan lingkungan sekitarnya dan dengan masyarakat. Jadi faktor manusia menjadi titik sentral  dari pandangan masyarakat terhadap bagaimana dan sejauh mana serta seperti apa pendidikan  yang diinginkan  guna memperbaiki dan memajukan masyarakatnya sendiri.
d)     Kepuasan intelektual ( akal fikiran), karena studi perbandingan  pendidikan tidak semata “membaca” fakta kependidikan di masyarakat yang sedang berlangsung, akan tetapi  memikirkan atau menganalisa  dengan cara-cara logis-rasional tentang fakta-fakta  itu seperti dengan angka-angka statistik, atau berbagai metode analisa. Fakta-fakta itu direnungkan melalui akal fikirannya sehingga ia mampu  menemukan hubungan antara fakta yang dilihat dengan faktor-faktor kebudayaan yang menjadi latar belakangnya yang mengakibatkan timbulnya kenyataan-kenyataan seperti terlihat dalam sistem kependidikan yang di studi. Dengan demikian studi ini mendorong orang untuk  mengungkapkan  rahasia yang melatar  belakangi sistem  tersebut. Bilaman ia mampu  mengungkapakan rahasia  atau hakekat  yang ada dibalik kenyataan  yang ada maka akan timbul rasa kepuasan  dalam batinnya, terutama kepuasan akal fikirannya yang telah  mencari dan menganalisisnya  secara tepat.
e)      Keuntungan operasional, karena studi perbandingan pendidikan berusaha mempelajari problem-problem kependidikan yang ada di dalam masyarakat di negeri lain yang dapat di jadikan bahan informasi untuk membantu  pemecahan problema kependidikan  lebih lanjut dalam  sistem kependidikan yang ada di negerinya sendiri. Dalam pemecahan problema itu  perbandingan pendidikan  memberikan tekanan pada sikap objektif, tidak memihak, dalam menginterpretasikan  fakta-fakta yang ada, sehingga hasil analisisnya akan mengandung nilai  tinggi bagi operasionalisasi (pelaksanaan) sistem kependidikan  yang diharapkan.

Manfaat yang pokok dari studi perbandingan pendidikan ialah dapatnya memberikan pengertian dan pengetahuan kepada seseorang terutama dalam usaha memecahkan permasalahan kependidikan yang dihadapinya. Studi perbandingan pendidikan dapat memberikan bantuan kepada mereka yang berusaha memahami kehidupan suatu bangsa yang selanjutnya akan memudahkan untuk begaul dengan bangsa yang bersangkutan.
Studi perbandingan pendidikan memegang peranan penting dalam usaha menggalang perdamaian dunia dan hidup berdampingan secara damai antara bebagai Negara, oleh karena asas yang dipeganginya adalah pertukaran kunjungan antara bangsa atau penyelenggaraan pertemuan dinegara-negara berbeda, bahkan dapat menimbulkan ikatan saling tolong menolong dan kerja sama dalam usaha memecahkan permasalahan kependidikan yang dapat mempertebal perasaan  persaudaraan kemanusiaan.
Itulah sebabnya maka studi perbandingan pendidikan tidak hanya terbatasi oleh masalah kependidikannya saja, melainkan sampai menjangkau kepada sasaran-sasaran yang lain yang jauh. Sasaran itu sangat berkaitan dengan kehidupan didalam masyarakat itu sendiri. Juga kehidupan masyarakat dalam hubungannya dengan masyarakat lain serta memperkokoh kerja sama, yang jujur, tukar menukar kunjungan dan saling pengertian.

I.       Perbedaan Konsep Dasar Pendidikan Islam dan Barat

1.      Konsep Dasar Pendidikan Islam

Pembicaraan tentang konsep dasar pendidikan islam ini mencakup pengertian istilah tarbiyah,ta’lim, ta’dib, dan pendidikan islam.

1)      Pengertian Tarbiyah
Abdurrahman An-nahlawi mengemukakan bahwa menurut kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah berasal dari tiga kata.

Pertama , raba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh.  Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah :
Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia ,maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.(QS.Ar-Rum(30):39).
           
Kedua, rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa, yang berarti menjadi besar. Atas dasar makna inilah Ibnu AI-Arabi mengatakan :
Jika orang bertanya  tentang diriku, maka mekah adalah tempat tinggalku dan di situlah aku dibesarkan .
Ketiga, rabba- yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga ,dan memelahara. Makna ini antara lain ditunjukkan oleh perkataan Hasan bin Tsabit , sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Al-Manzhur :
Sesungguhnya ketika engkau tampak pada hari ke luar di halaman istana,engkau lebih baik dari pada sebutir mutiara putih  bersih yang dipelihara oleh kumpulan air di laut .  
            Dari ketiga asal kata di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur, yaitu :
1)      Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
2)      Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.
3)      Mengarahkan deluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya.
4)      Proses ini di laksanakan secara bertahap .

2)      Pengertian Ta’lim
At-ta’lim merupakan bagian kecil dari at-tarbiyah ai-aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berfikir ,yang sifatnya mengacu pada domain kognitif . Hal ini dapat dipahami dari pemakaian kata ‘allama’ dikaitkan dengan kata ‘aradha’ yang mengimplikasikan bahwa proses pengajaran adam tersebut pada akhirnya diakhiri dengan tahap evaluasi . konotasi konteks kalimat itu mengacu pada evaluasi domain kognitif ,yaitu penyebutan nama-nama benda yang diajarkan ,belum pada tingkat domain yang lain .Hal ini memberi isyarat bahwa dibanding dengan at-tarbiyah.

3)      Pengertian Ta’dib
Muhammad Nadi Al-Badri, sebagaimana dikutip oleh Ramayulis mengemukakan, pada zaman klasik ,orang hanya mengenal kata ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidiakan . Pengertian seperti ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan islam , hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilakan oleh akal manusia pada masa itu disebut Adap , dan seorang pendidik pada masa itu disebut Mu’adib.
            Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaanya .(Al-Attas :60).
Pengertian ini berdasarkan Hadist Nabi :
Tuhanku telah mendidikku dan telah membaguskan pendidikanku .

4)      Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan islam adalah proses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya . Pengertian tersebut  mempunyai lima prinsip pokok, yaitu :
1)      Proses tranformasi dan internalisasi
2)      Ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
3)      Pada diri anak didik
4)      Melaluipenumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya .
5)      Guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya .

Dari keterangan-keterngan di atas sudah mulai terlihat perbedaan antara pendidikan Islam dan Barat dalam konsep dasar pendidikannya .
Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan kamil yang memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan,dan pewaris nabi. Tujuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut .
a.      Terbentuknya “insan kamil” .
b.      Terciptanya insan kaffah .
c.       Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta pewaris Nabi.

2.      Pengertian pendidikan Barat dan Asalnya

a.       Pengertian dan asal.

Dalam pendidikan Barat, ilmu tidak lahir dari pandangan hidup agama tertentu dan diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai. Namun sebenarnya tidak benar-benar bebas nilai tapi hanya bebas dari nilai-nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan. Menurut Naquib al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah . Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-ilmu sekular.
Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat, yaitu:
Pertama, menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia; 
Kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran;
Ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular;
Keempat, menggunakan doktrin humanism.
Kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.
Kelima faktor ini amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di Barat.

Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Perancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran. Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya .

b.       Konsep pendidikan Barat

Ada 4 konsep yang di pegang oleh prespektif barat. Mulai dari Sekuler, Liberal, Pragmatis, dan Materialis. Dari 4 konsep ini, dapat diartikan bahwa konsep pendidikan prespektif barat sangat berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

1)      Sekuler
Memisahkan antara ilmu dengan agama. Maksudnya, pendidikan barat lebih mementingkan ilmu daripada agama yang di dapat dari ilmu itu. mereka hanya mementingkan Jasmani dan tidak memikirkan akan rohani.

2)      Liberal
Bebas. Maksudnya, pendidikan barat itu bebas melakukan segala hal yang di suka, tetapi tetap mengarah akan ilmu yang dipelajarinya itu.

3)      Pragmatis
Praktis atau bersifat sementara. Mereka menganggap bahwa ilmu itu dipelajari agar seseorang dapat menggapai cita-citanya. Mereka hanya fokus akan satu titik berat yang dituju oleh pemikirannya. Proses penggapaian cita-cita itulah yang membuat seseorang menjadi lebih terstruktur untuk menggapainya secara maksimal. Mereka tidak mempelajari akan hal-hal yang seharusnya mereka pelajari disekitarnya seperti pendidikan sosial dan sebagainya.

4)      Materialis
Sebatas "materi" saja. Jadi, pendidikan itu hanyalah sebatas materi. Mereka tak memikirkan kedepan akan apa yang mereka sedang pelajari itu. Mereka hanya tertuju pada satu tujuan yaitu hasil nilai pelajaran yang baik.

Pembahasan pokok dari perbedaan pendidikan islam dan barat ialah :
a.      Pendidikan Barat memiliki perbedaan yang jauh dengan Islam
b.      Pendidikan Islam dan Barat berbeda dalam segi konsep dan tujuan
c.       Tujuan pendidikan Islam selain unsur materialis yaitu yang terpenting adalah Ibadah
d.     Pendidikan barat hanya bersandar pada rasionalisme dll.
e.      Pendidikan Islam berpatokan pada wahyu.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Perbandingan pendidikan tidak hanya membandingkan Sistem Pendidikan dan pengajaran, Pemikiran Pendidikan, Teori-teori pendidikan saja tetapi Perbandingan pendidikan merupakan perbandingan lebih mendalam lagi yaitu mencari tentang latar belakang yang menimbulkan problematika pendidikan dan sebab-sebab yang menimbulkan perbedaan dan persamaan teori dan praktik sistem pendidikan di beberapa Negara.
Ruang lingkup perbandingan pendidikan ialah meliputi sistem pendidikan, latar belakang yang mempengaruhinya, teori atau pengetahuan pendidikan, sejarah dan kebudayaannya.Ciri-ciri perbandingan pendidikan itu meliputi isi, metode dan perbandingan. Mengenai isi dalam perbandingan pendidikan yaitu harus memperhatikan sistem-sistem pendidikan, analisis tentang hub sekolah dengan masyarakat, dan pendidikan tentang modernisasi, yaitu peranan pendidikan dengan perkembangan ekonomi dan masyarakatnya.Selanjutnya mengenai metode dalam pendidikan perbandingan, ciri-ciri metode yang digunakan ialah bersifat historis, komperatif, filosofis, deskriptif, dan eksperimental. Sedangkan mengenai pendekatan digolongkan menjadi dua, yaitu makro dan mikro
Penguasaan dari sejumlah pengetahuan dan keterampilan adalah tuntutan yang harus dipenuhi oleh tenaga kependidikan dewasa ini. Maka pengembangan terhadap pengayaan aspek-aspek pndidikan harus dikembangkan, bukan hanya aspek yang ada di dalam negeri akan tetapi aspek dari luar negeri sekalipun harus diketahui untuk memperluas cakrawala kaum pendidik khususnya.
Dan dengan adanya unsur-unsur pendidikan luar jangan sampai ditolak mentah – mentah , akan tetapi dibandingkan , Karena pada dasarnya unsur-unsur tersebut  dapat menunjang usaha Peningkatan Pendidikan Nasional di Negara kita.
Maka untuk mengkondisikan hal-hal tersebut di atas, perlu secepatnya mendisiplinkan ilmu, agar objek atau  sasaran yang  dituju menjadi jelas dan tepat. Adapun yang perlu  digaris bawahi yaitu , jika membandingkan objek, konsep, teori dan praktek yang disampaikan diterapkan, karena banyak aspek atau faktor – faktor yang menjadi pengembangan, seperti: Aspek guru, ekonomi, sosial, politik, dan budaya.
Sedangkan perbedaan metodologi Barat dan Islam dari sudut keilmuan terletak pada peletakan status ontologi dan epistimologi pengetahuan. Kalau Barat akhirnya cenderung menolak status ontologis objek-objek metafisika dan lebih memusatkan perhatiannya pada objek-objek fisik (positivistik), epistimologi Islam masih mempertahankan statusontologis yang tidak hanya objek-objek fisika, tetapi juga objek-objek metafisika. Perbedaan cara pandang serta keyakinan terhadap status ontologis ini telah menimbukan perbedaan yang cukup signifikan di antara kedua sistem epistimologi tersebut dalam masalah-masalah yang menyangkut soal klasifikasi ilmu dan metode-metode ilmiah.
Perbedaan pada sisi lain, seperti dari sudut pendidikan ternyata Barat melihat anak didik sebagai manusia yang merdeka dan memiliki kebebasan dan sementara Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan dan sosial yang memiliki potensi sesuai dengan fitrahnya.
Akan tetapi, Barat lebih mengedepankan akal dengan mengenyamping kalbu. Artinya ilmu pengetahuan hanya merupakan teori-teori inderawi yang dapat diamati, diteliti serta dibuktikan saja. Oleh karena itu, tugas utama sebuah epistimologi adalah menunjukkan bagaimana ilmu itu mungkin secara filosofis.
Dan, merupakan tugas filsafat ilmu pengetahuan untuk menuntun bahwa pengetahuan itu mungkin secara filosofis. Untuk islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat perlu kembali mengintegrasikan antara al-kitab, al-huda, dan al-‘ilma atau agama-etika-teknologi, sebagai yang telah dilakukan para ilmuan muslim pada abad pertengahan.

B.     Saran

Kami berharap, dengan adanya makalah ini, para pembaca khususnya para mahasiswa, dosen, dan para pelaku yang memiliki minat dalam ilmu perbandingan pendidikan, dapat menambah, memperbarui, dan memahami pengetahuan tentang perbandingan pendidikan, serta dapat mengobati rasa keingintahuan mereka akan ilmu ini.





DAFTAR PUSTAKA

Nur,Agustiar Syah,2001, Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara , Bandung : Lubuk Agung.
H.M.Arifin, 2003, Ilmu Perbandingan Pendidikan, Jakarta : Golden Terayon Press.
Arifin, Ilmu Perbandingan Pendidikan, ( Jakarta: PT.Citra Mandala Pratama, 1986.
Imam Barnadib, Dasar-dasar Pendidikan Perbandingan, ( Yogyakarta: Institut Press IKIP Yogyakarta, 1984 ).
Imam Barnadib, Pendidikan Perbandingan,( Yogyakarta: Andi Offset, Cet.-2, 1990).
Sudiyono, Ilmu pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Abdurrahman, Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan, Gama Media, Yogyakarta, 2003
Al Jumlati, Ali. 1999. Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta
Umar,Bukhari .Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta.2010.Amzah.
pendidikan blogspot.com