Kamis, 11 Desember 2014

MAKALAH MODEL DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN BERORIENTASI PENCAPAIAN KOMPETENSI (DSI-PK)

Mata Kuliah : Perencanaan Sistem PAI

MAKALAH
MODEL DESAIN SISTEM
PEMBELAJARAN BERORIENTASI
PENCAPAIAN KOMPETENSI (DSI-PK)






 


OLEH


DJARIADIN RONALKO


SEMESTER : VII ( TUJUH )






JURUSAN TARBIYAH
PRODI PAI FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON (UNISMU BUTON)
T.A 2014


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat tuhan yang maha kuasa karena atas limpahan rahmat, hidayah dan inayahnya maka penulis dapat menyelesaikan makalah “Perencanaan Sistem PAI”. Dengan judul Model Desain Sistem Pembelajaran Berorientasi Pencapaian Kompetensi (DSI-PK) dapat terselesaikan dengan baik dan semampu penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran sangat penulis harapkan dari berbagai pihak sebagai bahan perbaikan dalam proses penyusunan materi yang selanjudnya.

Tak lupa ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Dosen selaku Pembina Mata kuliah “Perencanaan Sistem PAI” karena atas jasa dan pengaruhnya penulis dapat mengetahui materi tersebut. Tak lupa pula saya ucapkan terikasih kepada Ayah dan bunda tercinta serta kepada rekan-rekan seperjuangan karena atas dorongan dan semangat kerja samanya yang baik sehinga saya dapat aktif dalam mengikuti proses belajar di bangku perkuliahan.
Akhirnnya disampaikan terima kasih.
Pasarwajo, 11 November 2014
Penulis

Elis Masrohatun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang .................................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ............................................................................................. 1
C.     Tujuan Penulis ................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang Model Desain Pembelajaran .................................................... 3
B.     MODEL DSI-PK ............................................................................................. 6

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ...................................................................................................... 10
B.     Saran ................................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 11



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dewasa ini banyak kasus-kasus yang menyangkut kualitas dunia pendidikan di Indonesia, salah satu contohnya adalah kasus tentang anjloknya hasil UAN di kota Yogyakarta. Hal ini sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa kota Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar.Banyak pertanyaan yang muncul dan asumsi yang mencuat tentang penyebab dan solusi apakah yang terbaik agar masalah tersebut dapat diatasi, karena dampak dari kegagalan atau anjloknya hasil UAN tersebut cukup menghawatirkan.

Beberapa penyebab dari munculnya kasus-kasus didunia pendidikan dapat berasal dari berbagai faktor, bisa dari sistem pendidikan, proses pembelajaran, penggunaan media dan metode yang kurang representatif, model pembelajaran yang diterapkan, kompetensi pendidik, dan bisa dari peserta didik itu sendiri. Untuk itu perlu solusi yang tepat untuk mengatasi munculnya kasus-kasus pendidikan di Indonesia pada khususnya. Jika kita menyoroti penerapan rancangan kurikulum yang diterapkan oleh pendidik sedikit banyak yang tidak sesuai dengan tujuan awal perencanaan kurikulum tersebut, salah satunya adalah KBK dan KTSP, yang merupakan suatu model desain sistem pembelajaran berorientasi pencapaian kompetensi (DSI-PK), sehingga perlu suatu penjelasan tentang hal tersebut.

Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal tentang model pembelajaran DSI-PK, yang diharapkan dapat memberi solusi bagi dunia pendidikan.

B.     Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.      Apakah yang menjadi latar belakang perlunya model pembelajaran DSI-PK sebagai penunjang kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi
2.      Bagaiman akah kerangka model DSI-PK sebagai hasil dari proses pengembangan

C.    Tujuan Penulis

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Memenuhi tugas mata kuliah perencanaan pembelajaran
2.      Menjelaskan tentang model desain pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi siswa.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang Model Desain Pembelajaran

Yang menjadi latar belakang perlunya model desain sebagai penunjang kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi yaitu:

1.      Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi yang lahir seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan pendidikan

Lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemda; Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang Arah Kebijakan Pendidikan Dimasa Depan; UU No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; serta UU NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Berdasarkan lahirnya berbagai peraturan tersebut implikasinya bahwa kebijakan penyelenggaraan mengalami perubahan sistem pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik. Dengan kata lain kewenangan pengelolaan Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi yang lahir seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan tersebut adalah KBK dan KTSP, kurikulum ini merupakan upaya untuk menyiapakan tadik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi, dengan kompetensi yang dikembangkan adalah keterampilan (life skill yang mencakup: self awarness(kecakapan mengenal diri), thinking skill(kecakapan berpikir rasional), social skill, academic skill dan keahlian bertahan hidup (vocatonal skill ) diberbagai situasi dalam kehidupan.
Dan menurut Drs. H. Erman Suherman, M.Pd. (Jurnal Pendidikan dan Budaya, Vol. 5, No. 2)Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer, kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian, sosialisasi, dan pengendalian diri disebut dengan soft skill, yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Namun demikian, setiap daerah memiliki perbedaan dalam berbagai hal, sehinngga dengan kurikulum ini, guru diberi keleluasaan untuk berimprovisasi sesuai karakteristik siswa dan kondisi daerah tersebut.

2.      Perbedaan Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi dengan kurikulum sebelumnya

Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi dengan kurikulum sebelumnya sebernarnya memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu:
a.       Secara filosois, kurikulum ini menekankan pada tujuan membentuk siswa memiliki kemampuan dasar (competency oriented) sedangkan kurikulum sebelumnya lebih pada hanya menguasai bahan pelajaran (content oriented).
b.      Secara psikologis, kurikulum ini berorientasi pada seluruh potensi siswa yang berbeda-beda satu sama lainnya, sedangkan kurikulum sebelumnya justru sebaliknya.
c.       Materi pelajaran pada kurikulum ini digunakan untuk mencapai kemampuan yang dimiliki siswa, sedang pada kurikulum sebelumnya lebih sekedar dihafal untuk memperoleh nilai yang tinggi
d.      Guru dapat mengembangkan kurikulum ini sesuai karakteristik siswanya, sedangkan kurikulum sebelumnya harus sesuai yang sudah dibuat dimanapun kurikulum itu diterapkan.

3.      Makna dan Karakteristik Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi

a.       Makna Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi

Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapaisiswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan (Depdiknas 2002).
Dan kompetensi adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami (Drs. H. Erman Suherman, M.Pd), selanjutnya MCAshan (1981) mengemukakan kompetensi adalah “….a knowledge, skills, an abilities or……”, yang intinya bahwa suatu kompetensi untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan tugas tertentu harus didukung oleh pengetahuan, sikap dan apresiasi seseorang. Dengan demikian, kompetensi pada dasarnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Depdiknas 2001).
Dari uraian tersebut jelas bahwa makna dalam Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi yaitu:
a)      siswa tidak hanya dituntut untuk memahamiàa. Meaningfull learning sejumlah konsep, tapi bagaimana pemahaman konsep tersebut berdampak pada perilaku dan pola pikir sehari-hari
b)      Memberi peluang pada siswa sesuai keberagaman yang dimiliki masing-masing.

b.      Karakteristik Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi

Berdasarkan makna tersebut, Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a)      Memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai siswa
b)      Implementasi pembelajaran menekankan pada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman siswa
c)      Menekankan evaluasi pada hasil dan proses belajar siswa
Berdasarkan Depdiknas (2002)karakteristik Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi yaitu:
a.       Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa secara individu maupun klasikal
b.      Beroriebtasi pada hasil belajar dan keberagaman
c.       Penyampaian pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
d.      Sumber belajar tidak hanya guru tapi juga sumber lain yang memenuhi unsur edukatif
e.       Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam pencapaian suatu kompetensi

B.     MODEL DSI-PK

1.      Pengertian Model DSI-PK

Model Desain Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi (DSI-PK) adalah gambaran proses rancangan sistematika tentang pengembangan pembelajaran baik mengenai yang meliputi proses dan bahan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan sebagai upaya pencapaian kompetensi. Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri tiga bagian.

Pertama : analisis kebutuhan , yaitu proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. Proses analisis kebutuhan mempunyai dua hal pokok yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis. Kebutuhan akademis adalah kebutuhan sesuai dengan tuntutan kurikulum yang tergambar dalam setiap bidang studi atau mata peajaran, sedangkan kebutuhan nonakademis adalah kebutuhan di luar kurikulum yang meliputi kebutuhan personal, social maupun kebutuhan vokasional. Kebutuhan ini dijaring dengan berbagai teknik dari lapangan, misalnya dengan wawancara, observasi dan mungkin studi dokumentasi. Berdasarkan studi pendahuluan, selanjutnya ditentukan topic atau tema pembelajaran. Tema pembelajaran bisa ditentukan berdasarkan kebutuhan akademis, nonakademis ataupun gabungan keduanya. Kompetensi yang harus dicapai disesuaikan dengan topic pembelajaran. Kompetensi adalah kemampuan yang dapat diukur dan diamati sebagai hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai. Untuk meyakinkan hal ini perlu dikembangkan alat ukur dari setiap kompetensi yang diharapkan.

Kedua : pengembangan, yaitu proses mengorganisasikan materi pelajaran dan pengembangan kegiatan pembelajaran. Materi pelajaran disusun sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, yang meliputi data, fakta, konsep, prinsip dan atau mungkin keterampilan. Sedangkan proses, menunjukkan bagaimana sebaiknya siswa mengikuti kegiatan pembelajaran, yang di dalamnya meliputi aktivitas yang dilakukan siswa dan guru dalam mencapai kompetensi.

Ketiga : alat evaluasi, memiliki dua fungsi utama yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mengetahui efektifitas program yang telah disusun oleh guru. Hasil evaluasi formatif digunakan untuk perbaikan program pembelajaran. Evaluasi sumatif digunakan untuk memperoleh informasi keberhasilan siswa mencapai kompetensi, dan berfungsi sebagai bahan akuntabilitas guru dalam kegiatan pembelajaran.

Desain system instruksional adalah proses merancang atau merencanakan secara sistematis tentang analisis kebutuhan dan tujuan belajar, materi pembelajaran, pengembangan strategi dan teknik pembelajaran termasuk merancang pemanfaatan berbagai sumber daya dan potensi yang ada untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Briggs (1979), dalam rancangan itu termasuk proses pengembangan paket pelajaran, kegiatan pembelajaran, uji coba,revisi dan kegiatan evaluasi hasil belajar. Proses Desain Instruksional mempunyai kajian yang cukup luas, tidak hanya merencanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga merumuskan berbagai hal yang terkait dengan proses pembelajaran.
Sesuai dengan kebijakan pemerintah, pengembangan kurikulum dan proses perencanaan pendidikan diserahkan kepada daerah termasuk guru-guru di sekolah, maka kemampuan mendesain instruksional merupakan sesuatu yang sangat penting bagi guru. Guru dituntut untuk mampu merencanakan program pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.
Desain system instruksional hasil penelitian yang dinamakan DSI-PK (Desain Sistem Instruksional Berorientasi pada Pencapaian Kompetensi), merupakan model desain yang diharapkan dapat digunakan setiap guru sebagai pedoman untuk mengembangkan system instruksional sesuai dengan karakteristik kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi.

2.      Prosedur Pengembangan DSI-PK

Prosedur Pengembangan DSI-PK yaitu: proses penjaringan informasi tentang.
a.       Menganalisis Kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan tadik sesuai jenjang pendidikan, yang meliputi; Kebutuhan Akademis
b.      (kebutuhan sesuai tuntutan kurikulum yang tergambar disetiap bidang studi), Kebutuhan Nonakademis (kebutuhan diluar kurikulum yang meliputi; kebutuhan personal, kebutuhan sosial, atau mungkin kebutuhan vokasional), yang dijaring dengan berbagai teknik.
c.       Menentukan tema atau topik pembelajaran, berdasarkan kebutuhan akademis, nonakademis, atau kedua-duanya, dan kompetensi yang diharapkan disesuaikan dengan topik. proses mengorganisasikan mata pelajaran dan pengembangan :
d.      Pengembangan proses pembelajaran, yang dilakukan siswa dan guru dalam mencapai kompetensi.yang memiliki fungsi utama yaitu; evaluasi :
e.       Pengembangan alat evaluasi formatif (untuk melihat sejauh mana efektifitas program yang disusun guru, untuk perbaikan program pembelajaran berikutnya), evaluasi sumatif (untuk memperoleh informasi keberhasilan siswa mencapai kompetensi/ sebagai bahan akuntabilitas guru dalam peelaksanaan pembelajaran)

3.      Karakteristik Model DSI-PK

Model desain system instruksional (DSI-PK) memiliki karakteistik sebagai berikut:
a.       Model desain yang sederhana dengan tahapan yang jelas dan bersifat praktis
b.      Secara jelas menggambarkan langkah-langkah yang harus ditempuh
c.       Merupakan pengembangan dari analisis kebutuhan (analisis kebutuhan akademis dan personal sesuai tuntunan sosial kedaerahan)
d.      Ditekankan pada penguasaan kompetensi sebagai hasil belajar yang dapat diukur.

Seperti kita ketahui, KBK dan KTSP merupakan uapaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan social yang bermutu tinggi. Dalam rangka inilah DSI-PK dikembangkan.
Kerangka berfikir DSI-PK adalah menggunakan pendekatan system. Sistem dapat diartikan sebagai keseluruhan dari bagian-bagian yang saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan kebutuhan yang telah ditetapkan.
Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Melalui proses perencanaan dapat ditentukan berbagai hal yang dapat mendukung ketercapaian tujuan, termasuk memprediksi setiap hambatan yang mungkin muncul selama proses berlangsung, Dengan demikian, bekerja dengan system dapat terhindar dari keberhasilan secara kebetulan, sebab melalui perencanaan dalam suatu system para pengembang dapat menggunakan dan memanfaatkan segala potensi yang ada untuk pencapaian keberhasilan,

4.      Kelebihan Model DSI-PK

a.       Rancangan pembelajaran model DSI-PK tidak hanya menyangkut rancangan kompetensi akademis sesuai standar isi kurikulum, tapi juga merancang kompetensi nonakademis yang sesuai dengan tuntutan sosial kedaerahan.
b.      Kerangka berpikirnya menggunakan pendekatan sistem (menggunakan berbagai hal yang saling berkaitan) untuk mencapai tujuan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan, bahwa model DSI-PK merupakan salah satu model pengembangan sistem pembelajaran yang berorientasi pada tuntutan sosial kedaerahan dengan mengutamakan sejumlah kompetensi yang dibutuhkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik dapat survive menjalani kehidupannya.

B.     Saran

Untuk dapat melaksanakan kurikulum yang telah dirancang sesuai tujuan pendidikan, yakni kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi siswa (KBK/KTSP), sebaiknya diadakan penataran, dan sejenisnya bagi para pendidik, agar lebih dapat menerapkan kurikulum sesuai dengan yang diharapkan.



DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina . 2008. Perencanaan dan desain Sistem Pembelajarann. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup
Wina, Sanjaya. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktek Pengembangan KTSP. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Drs. H. Erman Suherman, M.Pd. (Jurnal Pendidikan dan Budaya, Vol. 5, No. 2)
http://kumpulan-makalah-adinbuton.blogspot.com