Selasa, 27 Oktober 2015

KUMPULAN MAKALAH AYAT DAN HADIST TENTANG ILMU PENGETAHUAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Allah menciptakan manusia dan memberi akal kepadanya tidak lain adalah agar manusia berfikir terhadap berbagai kejadian atau fenomena yang terjadi di muka bumi ini sehingga manusia mengenal berbagai macam tanda kebesaran-Nya. Allah SWT menciptakan fitrah yang bersih dan mulia itu lalu melengkapinya dengan bakat dan sarana pemahaman yang baik yang memungkinkan manusia mengetahui kenyataan-kenyataan besar di alam raya ini. Fitrah manusia mukmin mengarah ke alam raya untuk mengungkap rahasia dan tujuan penciptaannya serta berakhir dengan memahami posisi dirinya di alam raya ini dan menentukan bagaimana ia harus berbuat dan bersikap di dalamnya. Ilmu yang diperoleh manusia semestinya dapat membuahkan penanaman akidah dan pendalaman keimanan yang tulus kepada Allah.

Jika terjadi lompatan kemajuan ilmu dan teknologi melalui penelitian terhadap gejala-gejala alam dan kehidupan, sebenarnya sangat mengherankan kalau orang-orang yang lalai itu hanya berhenti pada batas studi yang bersifat mekanis dan tidak menyeberang untuk menemukan rahasia-rahasia hukum Tuhan serta memahami hikmah di balik ciptaan-Nya. Orang yang melihat langit hanya  dari warna yang biru, atau bumi dari tanahnya, ia tidak ubahnya hewan, bahkan lebih rendah dan lebih sesat.

Sebagai makhluk yang diberi akal dan pikiran, manusia dituntut untuk berpikir serta menggali ilmu karena Islam sendiri telah mewajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Berbicara tentang Ilmu Pengetahuan dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, ada persepsi bahwa Al-Qur’an itu adalah kitab Ilmu Pengetahuan. Sekarang ini, di saat semua teknologi sudah canggih, dunia membuktikan dengan banyaknya temuan-temuan terkini yang ternyata semuanya sudah terdapat dalam Al-Qur’an.

Penafsiran Al-Quran sendiri seolah tidak pernah selesai, karena setiap saat bisa muncul sesuatu yang baru, sehingga Al-Quran terasa selalu segar karena dapat mengikuti perkembangan zaman. Pada kesempatan ini penulis hendak sedikit mengulas tentang ayat-ayat Al-Quran tentang ilmu pengetahuan beserta tafsir dan analisisnya. Semoga apa yang penulis tulis dalam makalah ini sedikit membantu pembaca dalam memperoleh khazanah-khazanah keislaman yang baru.


B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis menarik  beberapa poin rumusan masalah untuk dijadikan pembahasan dalam makalah ini yaitu :
1.      Apa definisi ilmu pengetahuan dalam islam ?
2.      Bagaimana kedudukan ilmu pengetahuan dalam islam ?
3.      Apa ayat dan hadist tentang ilmu pengetahuan ?

C.    Tujuan Penulis

Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1.      Mengetahui definisi ilmu pengetahuan dalam islam.
2.      Memahami kedudukan ilmu pengetahuan dalam islam.
3.      Mengetahui dan  memahami ayat dan hadits tentang ilmu pengetahuan.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat diindera oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan dan keyakinan) melalui akal atau proses berfikir (logika). Ini adalah konsep umum (barat) yang disebut (knowledge). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis merupakan formula yang disebut ilmu pengetahuan  (science). Dalam Al-Qur’an, keduanya disebut (ilmu). Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang dimaksud ilmu itu tidak terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (sience) saja, melainkan justru diawali oleh ilmu Allah yang dirumuskan dalam lauhil mahfudzh yang disampaikan kepada kita melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.[1]
Ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri. Bila diikuti jalan fikiran ini, maka dapatlah kita fahami bahwa Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan manusia (Knowledge dan science). Dengan membaca dan memahami Al-Qur’an, manusia pada hakekatnya akan memahami ilmu Allah, yaitu firman-firman-Nya.[2]
Jadi, berdasarkan fakta-fakta yang ada dan apa-apa yang terkandung dalam al-qur’an, kita dapat membulatkan pernyataan bahwa ilmu  yang dimiliki oleh manusia dan yang wajib dituntut oleh manusia, semua berporos pada agama. Agama yang menjunjung tinggi peran akal dalam mengenal hakikat segala sesuatu. Begitu pentingnya peran akal, sehingga bahkan dikatakan bahwa tak ada agama bagi orang yang tak berakal, dengan akal yang telah sempurna itulah maka Islam diturunkan ke alam semesta. Melalui akal, manusia dengan proses berfikir berusaha memahami berbagai realita yang hadir dalam dirinya, sehinga manusia mampu menemukan kebenaran sesuatu, membedakan antara haq dan bathil. Sehingga dapat dikatakan bahwaakal dan kemampuan berpikir yang dimiliki manusia adalah fitrah manusia yang membedakannya dari makhluk yang lain.

B.     Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Sebagai orang yang rendah pengetahuan keislamannya beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah sekedar kumpulan cerita-cerita kuno yang tidak mempunyai manfaat yang signifikan terhadap kehidupan modern, apalagi jika dikolerasikan dengan kemajuan IPTEK saat ini. Al-Qur’an menuntut mereka cukuplah dibaca untuk sekedar mendapatkan pahala bacaannya, tidak untuk digali kandungan ilmu didalamnya, apalagi untuk menjawab permasalahan-permasalahan dunia modern dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan, hal itu adalah sesuatu yang nonsense. Anggapan-anggapan di atas merupakan indikasi bahwa orang tersebut tidak mau berusaha untuk membuka Al-Qur’an dan menganalisis kandungan ayat-ayatnya. Oleh karenanya maka anggapan tersebut adalah sangat keliru dan bertolak belakang dengan semangat Al-Qur’an itu sendiri. Bukti-bukti ini yang menunjukkan sebaliknya misalnya, bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca/belajar dan menggunakan akal, bukan perintah untuk shalat, puasa atau dzikrullah. Demikian tinggi hikmah turunnya ayat ini, menunjukkan perhatian Islam yang besar terhadap ilmu pengetahuan.[3]
Sejarah menunjukkan, bahwa pada masa kaum muslimin mempelajari dan melaksanakan agamanya dengan benar, maka mereka memimpin dunia dengan pakar-pakar yang menguasai dalam  disiplin ilmunya masing-masing, sehingga Barat pun belajar dari mereka. Baru di masa kaum muslimin meninggalkan ajaran agamanya dan tergiur dengan kenikmatan duniawi dan berpaling ke barat, maka Allah SWT merendahkan dan menghinakan mereka. Sungguh telah benar Rasulullah SAW yang telah memperingatkan umatnya dalam hal ini. Karena kedudukan ilmu yang sedemikian tingginya, maka islam mewajibkan umatnya untuk memperlajari ilmu.[4]

C.    Ayat dan hadist tentang Ilmu Pengetahuan

Surat Al-Alaq (96) ayat 1-5

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡوَرَبُّكَ     ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
Artinya : 
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3). Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).

Tafsir Ayat :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (ayat 1). Dari suku kata pertama saja yaitu “bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi Muhammad disuruh untuk membaca wahyu yang akan diturunkan kepada beliau atas nama Allah, tuhan yang telah menciptakan. Yaitu “Menciptakan manusia dari segumpal darah” (ayat 2). Yaitu peringkat yang kedua sesudah nuthfah. Yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan yang setelah 40 hari lamanya, air itu akan menjelma menjadi segumpal darah dan dari segumpal darah itu kelak setelah 40 hari akan menjadi segumpal daging. “Bacalah, dan tuhanmu itu adalah maha mulia”(ayat 3).
Setelah pada ayat pertama beliau menyuruh membaca dengan nama allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, diteruskan lagi menyuruh membaca diatas nama tuhan. Sedang nama tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah yang maha mulia, maha dermawan, maha kasih dan saying kepada mahluknya. “Dia yang mengajarkan dengan kalam”(ayat 4). Itulah istimewanya tuhan itu lagi. Itulah kemulianya yang tertinggi. Yaitu diajarkanya kepada manusia berbagai ilmu, dibukanya berbagai rahasia, diserahkanya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan Allah yaitu dengan qalam. Dengan pena disamping lidah untuk membaca, tuhanpun mentaksirkan pula bahwa dengan pena ilmu dapat dicatat. Pena itu  kaku dan beku serta tidak hidup namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahami oleh manusia “Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu” (Ayat 5). Terlebih dahulu Allah ta’ala mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh allah kepadanya, sehingga dapat pula dicatat ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang sudah ada dalam tanganya.

Analisa :
Berdasarkan ayat  tersebut Rasululallah disuruh untuk membaca agar menjadi orang yang bisa membaca sebelum tadinya tidak. Betapa pentingnya membaca itu, bahkan sesungguhnya setiap detik hidup ini adalah membaca. Tanpa  membaca, orang akan kesulitan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Setiap orang bisa saja membaca objek yang sama. Namun yang membedakan adalah kualitas pembacaannya. Pada masa jahiliyyah dahulu, kondisi kehidupan masyarakat didominasi oleh pembacaan yang salah. Membaca yang benar dalam arti menyeluruh harus menjadi bagian dari hidup seorang muslim. Manusia dapat baru dapat dimintai pertanggungjawaban setelah mampu membaca dalam arti luas. Sebab kemampuan membaca adalah tanda berfungsinya akal seseorang. Dikutip dari sebuah hadits, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”. Kualitas pembacaan juga ditandai dengan kedalaman atau kejauhan pandangan. Dengan hanya sedikit indikator atau tanda, seharusnya setiap Muslim mampu membaca jauh melebihi apa yang dilihatnya.
 Dalam ayat tersebut dapat diketahui perintah Allah SWT kepada manusia untuk menuntut ilmu, dan dijelaskan pula sarana yang digunakan untuk menuntut ilmu yaitu kalam. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi umat manusia dan mengamalkannya juga merupakan ibadah. Semakin tinggi ilmu yang dikuasai, semakin takut pula kepada Allah SWT sehingga dengan sendirinya akan mendekatkan diri kepada-Nya. Adapun dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Perumpamaan apa yang aku bawa dari petunjuk dan ilmu adalah seperti air hujan yang banyak yang menyirami bumi, maka di antara bumi tersebut terdapat tanah yang subur, menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan ilalang yang banyak. Dan di antaranya terdapat tanah yang kering yang dapat menahan air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya sehingga mereka bisa minum darinya, mengairi tanaman dengannya dan bercocok tanam dengan airnya. Dan air hujan itu pun ada juga yang turun kepada tanah/lembah yang tandus, tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput-rumputan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan orang yang mengambil manfaat dengan apa yang aku bawa, maka ia mengetahui dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, dan perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali dengan ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya." (HR. Al-Bukhariy)
 Di dalam hadits ini terdapat pengarahan dari Nabi SAW agar bersemangat untuk mencari ilmu, yaitu beliau SAW memberikan perumpamaan terhadap apa yang beliau bawa, yaitu hujan yang menyeluruh di mana manusia mengambil dan memanfaatkan air hujan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kemudian beliau SAWmenyerupakan orang yang mendengar ilmu dengan bumi/tanah yang bermacam-macam dimana air hujan (ilmu) turun padanya:
1.      Diantara mereka ada orang yang berilmu, beramal dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah yang baik, yang menyerap air lalu memberikan manfaat pada dirinya dan menumbuhkan tanaman dan rumput-rumputan sehingga memberikan manfaat bagi yang lainnya.
2.      Diantara mereka ada yang mengumpulkan ilmu yang dia sibuk dengannya, di mana ilmu tersebut dimanfaatkan pada masanya dan masa setelahnya dalam keadaan dia belum bisa mengamalkan sebagian darinya atau belum bisa memahami apa yang dia kumpulkan, akan tetapi dia sampaikan kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah yang menahan air sehingga manusia dapat mengambil manfaat darinya.
3.      Dan di antara mereka ada orang yang mendengar ilmu tetapi tidak menghafalnya, tidak beramal dengannya dan tidak pula menyampaikannya kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah lumpur atau tanah tandus yang tidak dapat menerima/menampung air.
Kelompok pertama dan kedua dalam perumpamaan tersebut kelak akan dikumpulkan menjadi satu karena kebersamaan mereka dalam memanfaatkan ilmu yang mereka miliki walaupun derajat kemanfaatannya bertingkat-tingkat. Dan kelompok ketiga yang tercela akan dipisahkan dari kelompok satu dan dua karena tidak adanya kemanfaatan darinya. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya terdapat perbedaan yang besar antara orang yang mencari ilmu lalu memberikan manfaat pada dirinya dan orang lain dengan orang yang rela dengan kebodohan dan hidup dalam kegelapannya sehingga dia tidak mendapat bagian sedikit pun dari warisannya para Nabi.

Hadis Tentang Keutamaan Belajar

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ. رواه مسلم والترمذى وأحمد والبيهقى
Terjemahan :
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga.

Hadist ini telah diteliti dan tel;ah ditelusuri ke dalam mu’jam alhadits dengan menggunakan potongan lafal عِلْم setelah ditelusuri diperoleh imformasinya dalam mu’jam jilid 3  halaman 5 sebagai berikut
                                                                                             سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Dari imformasi mu’jam tersebut penulis merujuk ke kitab hadis dan didapatkan imformasi dari kitab sunan addarimi kitab mukadimah hadis no 24

Penjelasan Hadis Dan Ayat Pendukung

Menurut Ibn Hajar, kata طَرِيْقًا diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit), begitu juga dengan kata ilmu yang berarti mencakup semua jalan atau cara untuk mendapatkan ilmu agama, baik sedikit maupun banyak.
Jadi apabila dikaitkan dengan ayat yang pertama turun yaitu surat al’alaq, “اقْرَأْ artinya baca, jadi untuk mendapatkan ilmu itu harus dengan banyak membaca. Contohnya allah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, seluruhnya mengandung ilmu pengetahuan.
 سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا  (Allah memudahkan baginya jalan) Yaitu Allah memudahkan baginya jalan di akhirat kelak, atau memudahkan baginya jalan di dunia dengan cara memberi hidayah kepadanya untuk melakukan perbuatan yang baik yang dapat menghantarkannya menuju surga. Hal ini mengandung berita gembira bagi orang yang menuntut ilmu, bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya, karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga.
 Dalam hadis ini, Rasulullah saw. menggunakan pendekatan fungsional. Beliau memberikan motivasi belajar kepada para sahabat (umat)nya dengan mengemukakan manfaat, keuntungan dan kemudahan yang akan diperoleh oleh setiap orang yang berusaha mengikuti proses belajar. Kendatipun beliau tidak menggunakan kata perintah (fi'l al-amr), namun ungkapan ini dapat dipahami sebagai perintah. Bahkan sering motivasi dengan ungkapan seperti ini lebih efektif daripada perintah. Siapakah orang beriman yang tidak ingin mendapatkan kemudahan untuk masuk sorga? Jawabannya dapat ditebak, tidak ada. Artinya semua orang beriman itu akan ingin sekali mendapatkan fasilitas ini. Nah, caranya tempuhlah jalan atau ikutilah proses mencari ilmu dengan ikhlas karena Allah.
Anjuran yang terdapat dalam hadis ini sejalan dengan pernyataan Allah dalam Alquran. Firman Allah (QS Fathir/35: 28) yang terjemahannya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.
Al-Marâghi menjelaskan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya dan mematuhi hukuman-Nya hanyalah orang-orang yang mengetahui tentang kebesaran dan kekuasaan Allah atas hal-hal apa saja yang Dia kehendaki, dan bahwa Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena orang yang mengetahui hal itu, dia yakin tentang hukuman Allah atas siapa pun yang bermaksiat kepada-Nya. Maka dia merasa takut dan ngeri kepada Allah karena khawatir mendapat hukuman-Nya tersebut.
Sehubungan dengan ayat di atas, Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ عَائِشَةُ قَالَتْ: صَنَعَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - شَيْئًا فَرَخَّصَ فِيهِ فَتَنَزَّهَ عَنْهُ قَوْمٌ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَخَطَبَ فَحَمِدَ اللَّهَ ثُمَّ قَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُونَ عَنِ الشَّىْءِ أَصْنَعُهُ ، فَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً. رواه البخارى
Rasulullah saw. melakukan sesuatu lalu beliau memberi rukhsah (keringanan) mengenai sesuatu itu. Namun ada suatu kaum yang menghindarinya. Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw. Lalu beliau pun berkhutbah. Beliau memuji Allah lalu bersabda, ‘Kenapakah ada kaum yang menghindari sesuatu yang aku perbuat. Demi Allah sesungguhnya aku adalah yang paling tahu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya di antara mereka.” (H. R. Al-Bukhari dan Muslim).

Ada dasar yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hasan Al-Basri. Menurut Ibn Abbas, “Orang yang berilmu tentang Allah Yang Maha Pencipta di antara hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, memelihara wasiat-Nya dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya dan memperhitungkan amalnya.”  Hasan Al-Basri berkata, “Orang yang berilmu ialah orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun dia tidak mengetahui-Nya, menyukai apa yang disukai oleh Allah dan menghindari apa yang dimurkai Allah.’ Kemudian Al-Basri membaca QS Fathir/35: 28.
Dari ayat, hadis dan atsar di atas dapat dipahami dengan jelas bahwa ilmu pengetahuan itu memudahkan orang menuju sorga. Hal itu mudah dipahami karena dengan ilmu, seseorang mengetahui akidah yang benar, cara-cara beribadah dengan benar, dan bentuk-bentuk akhlak yang mulia. Selain itu, orang berilmu mengetahui pula hal-hal yang dapat merusak akidah tauhid, perkara-perkara yang merusak pahala ibadah, dan memahami pula sifat dan akhlak-akhlak jelek yang perlu dihindarinya. Semuanya itu akan membawanya ke sorga di akhirat, bahkan kesejahteraan di dunia ini.
Yang dimaksud dengan dimudahkan Allah baginya jalan menuju sorga adalah ilmunya itu akan memberikan kemudahan kepadanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menyebabkannya masuk sorga. Karena ilmunya, seseorang itu mengetahui kewajiban yang harus dikerjakannya dan larangan-larangan yang harus dijauhinya. Ia memahami hal-hal yang dapat merusak akidah dan ibadahnya. Ilmu yang dimilikinya membuat ia dapat membedakan yang halal dari yang haram. Dengan demikian,  orang yang memiliki ilmu pengetahuan itu tidak merasa kesulitan untuk mengerjakan hal-hal yang dapat membawanya ke dalam sorga.
Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada orang yang mencari ilmu. Malaikat telah mengetahui bahwa Allah sangat mengutamakan ilmu. Hal itu terbukti ketika mereka disuruh hormat kepada Adam setelah Adam menunjukkan kelebihan ilmunya kepada malaikat. Oleh sebab itu,  para malaikat merasa senang kepada orang-orang yang berilmu karena mereka dimuliakan oleh Allah.
Orang yang menuntut ilmu dimintakan ampun oleh makhluk-makhluk Allah yang lain. Ini merupakan ungkapan yang menunjukkan kesenangan Rasulullah SAW. kepada para pencari ilmu. Ilmu itu sangat bermanfaat bagi alam semesta, baik manusia maupun bukan manusia. Dengan ilmu pengetahuan yang disertai iman, alam ini akan selalu terjaga dengan indah. Penjagaan dan pengelolaan alam ini dapat dilakukan dengan ilmu pengetahuan. Jadi, orang yang memiliki ilmu dan menggunakannya untuk kebaikan alam semesta merupakan orang mulia yang pantas didoakan oleh penghuni alam ini.
Orang berilmu pengetahuan lebih utama daripada ahli ibadah. Keutamaannya diumpamakan oleh Rasulullah SAW. bagaikan kelebihan bulan pada malam purnama dari bintang. Keutamaan bulan malam purnama yang jelas dari bintang-bintang adalah dalam hal fungsi menerangi. Bulan itu bercahaya yang membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi yang lain. Sedangkan bintang kurang cahayanya dan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sifat seperti itu terdapat pula pada orang yang berilmu pengetahuan dan ahli ibadah. Orang yang berilmu pengetahuan dapat menerangi dirinya sendiri dengan petunjuk dan dapat pula menerangi orang lain dengan pengajarannya. Dengan kata lain, orang 'alim itu memberikan manfaat untuk dirinya dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang berilmu dikatakan sebagai pewaris Nabi. Ini merupakan penghormatan yang sangat tinggi. Warisan Nabi itu bukan harta dan fasilitas duniawi, melainkan ilmu. Mencari ilmu berarti berusaha untuk mendapatkan warisan beliau. Berbeda dari warisan harta, untuk mendapatkan warisan Nabi tidak dibatasi pada orang-orang tertentu. Siapa saja yang berminat dapat mewarisinya. Bahkan, Rasulullah SAW. menganjurkan agar umatnya mewarisi ilmu itu sebanyak-banyaknya.
Dari hadis di atas terlihat bahwa Rasulullah SAW. mendidik umatnya untuk menjadi 'alîm, (jamaknya 'ulamâ') dengan pendekatan fusngsional. Pendekatan ini merupakan upaya memberikan materi pembelajaran dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dan bimbingan untuk mendapatkan ilmu diharapkan berguna bagi kehidupan seseorang, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan sosial. Melalui pendekatan fungsional ini berarti peserta didik dapat memanfaatkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Analisis pemakalah

Mencari ilmu adalah  suatu aktivitas yang memiliki tantangan. Tantangan itu dapat berbentuk biaya, waktu, kesehatan, kecerdasan dan lain sebagainya. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah  orang yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Ada orang yang tidak sukses dalam menuntut ilmu karena tidak sabar dalam berjuang menghadapi tantangan. Ketika menuntut ilmu, seseorang tidak dapat mencari uang bahkan sebaliknya menghabiskan uang. Bagi orang yang tidak memiliki tabungan uang, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mencari ilmu pengetahuan terutama pada jalur pendidikan formal. Demikian juga dengan tantangan yang lain.
Bagi orang yang beriman, tantangan itu tidak perlu menjadi hambatan. Sebab selain tantangan, ia juga memiliki motivasi yang sangat besar. Orang-orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju sorga.

Analisis kependidikan

Dari hadis diatas,nabi  mengajarkan kepada kita agar didalam kehidupan ini apapun tujuan yang akan  kita capai, kalau ditempuh dengan jalan menuntut ilmu allah akan memudahkan jalan untuknya kesorga, baik itu sorga dunia lebih-lebih lagi sorga ahirat.karena untuk mudah menjangkau dunia dan isinya itu adalah harus melalui pendidikan, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka dia akan semakin mudah untuk menjangkau dunia dan isinya. Kemudian untuk mencapai ahirat dan ridho allah adalah dengan prestasi ibadah. Beridah  itu juga harus dengan ilmu. Imam safii juga pernah berkata mencari ilmu itu lebih utama dari pada mengerjakan sunnah.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari penjelasan hadis yang telah pemakalah paparkan di atas maka, secara umum dapat disimpulkan, bahwa agama islam merupakan agama yang universal, yang tidak hanya mengajarkan kepada kita untuk sholat, puasa, baca al-quran, tetapi islam juga mewajibkan kepada kita untuk berilmu pengetahuan dan berteknologi.

B.     Saran

Dilihat dari isi kandungan hadits yang pemakalah bahas, pemakalah mearasa bahwa pembahasan ini sangat bermanfaat bagi kita semua, kususnya bagi kami sebagai pemakalah, sebab pemakalah yakin kalau kita mempunyai sedikit banyaknya ilmu pengetahuan , maka seseorang itu akan sangat mudah untuk mencapai hidup bahagia di dunia dan di ahirat.


















DAFTAR PUSTAKA

Alghazali imam ihya ulumuddi. Bimbingan untuk mencapai tingkat mukmin. Bandung:c.v. diponegoro
Djamari arifin zainal. Islam, aqidah dan syari,ah I.1996.Jakarta: PT.Grafindo persada
Al-Darimiy, Sunan ad-Darimi, jilid 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 252. Hadis dengan maksud yang sama juga diriwayatkan  Ad-Daruqutni dari Abi Sa’id. Lihat, Ali ibn Umar Abu al-Hasan ad-Daruquthni al-Baghdadi (selanjutnya disebut Al-Daruqutni),
 Sunan Al-Daruquthni,  juz 9, (Beirut: Dar al-Makrifah, 1966

Sya’b al-Iman, Juz 2, Beirut: Dar –Kutub al-‘Ilmiyah
Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, (selanjutnya disebut Al-Marâghi), Tafsir al-Maraghiy, Jilid 4, Juz 11, t.tp.: Dar al-Fikr
 Muhammad Rasyid Rida, Tafsîr al-Qur'ân al-Hakîm al-Syahîr bi Tafsîr al-Manâr, Jilid 11,Beirut: Dar al-Ma'rifah



[1] Qohar Masjqoery, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, 2003), hlm. 213
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid.